SMART BPJS (2) : Bagaimana Rumah Sakit Untung Dengan BPJS ?

SMART BPJS : BPJS Terakomodasi, Pasien Terlayani, Rumah Sakit Untung

Oleh : Hartono, S.Kom (Konsultan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit – SIMRS)

Pemerintah mencanangkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Target yang ingin dicapai adalah pada tahun 2019 seluruh warga negara akan masuk sebagai peserta JKN ini. Dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, pemerintah telah menunjuk Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) sebagai penyelenggara.

Dengan kata lain, rumah sakit saat ini bergabung atau tidak dengan BPJS hanya masalah waktu saja. Jika ingin tetap bertahan, mau tidak mau, suka atau tidak pada akhirnya tetap harus bisa melayani pasien BPJS. Jika ini disadari semestinya reaksi rumah sakit bukan dicurahkan untuk kontra kebijakan, tapi lebih memfokuskan diri untuk penataan internal memaksimalkan potensi dan berkreasi agar siap menjawab tantangan perkembangan.

Prof. DR. Dr. Rochmad Romdoni, Sp PD. Sp JP (K), Direktur Utama Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan Jika manajemennya kreatif, BPJS malah menghidupkan bisnis rumah sakit”. Sebagai direktur rumah sakit tentu beliau tidak asal bicara, karena sudah dibuktikan sendiri di instansi yang dipimpinnya. RS Islam Jemursari Surabaya adalah salah satu cerita sukses BPJS Kesehatan di rumah sakit swasta. “Ketika yang lain ribut dengan BPJS, bahkan ada yang bilang defisit ikut BPJS, maka RSI Surabaya bisa menjadi contoh yang baik,” kata Direktur Utama BPJS Kesehatan Dr. dr. Fachmi Idris M.Kes.

Apa yang dilakukan RS Islam Jemursari sehingga bisa untung dengan BPJS ?

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis sebagai Konsultan SIMRS di berbagai rumah sakit, salah satunya di RSI Jemursari ini, berikut adalah beberapa hal yang saya lihat mengapa RSI Jemursari bisa untung dan bahkan jauh lebih berkembang setelah menerima pasien BPJS :

  • Niat baik akan mendatangkan hal baik

Memang tidak salah jika rumah sakit selalu mengkaitkan keuntungan karena memang itu bahan bakar pelayanan, tapi semestinya juga perlu diingat rumah sakit juga mengemban “misi kemanusiaan”. Jika menyadari hal ini tentu tidak ada alasan menolak pasien BPJS.

  • Manajemen yang kreatif dan karyawan yang adaptif

Kecilnya biaya tanggungan BPJS menuntut manajemen berfikir kreatif dalam melakukan pengelolaan rumah sakit. Terbukti, jika mengoptimalkan semua potensi, rumah sakit bisa untung bahkan berlebih dari sebelumnya.

  • Memahami konsep pembiayaan BPJS

Lazimnya pembiayaan di rumah sakit dihitung dengan konsep bisnis harian, tindakan yang diberikan, dan obat-obatan yang diresepkan. Hal ini tidak berlaku bagi BPJS karena mereka menggunakan pembiayaan berdasarkan diagnosa. Tidak peduli apapun yang dilakukan dan diberikan kepada pasien nilai klaim adalah tetap sesuai diagnosanya.

  • Tepat Penanganan dan Tepat Tindakan Dokter

Berkaca dari konsep pembiayaan BPJS, rumah sakit dituntut untuk cerdik dalam pelayanan. Dokter dipaksa berfikir dan berkreasi agar tepat dalam penanganan dan tepat pula dalam pemberian tindakan. Intinya menghindari “over pelayanan”.

Dalam setiap keadaan akan selalu muncul peluang. Memang keuntungan dari pelayanan BPJS cukup kecil dibandingkan dengan pasien umum, tapi jumlahnya sangat banyak. Daripada berdarah-darah memperebutkan pasien premium, yang menghabiskan energi dan juga biaya, dan jumlahnya juga akan semakin menurun, lebih baik bersiap diri untuk melayani pasien BPJS yang jumlahnya akan terus bertambah. (bersambung)

Share :
  • Print
  • Facebook
  • email

Related posts:

  1. SMART BPJS (1) : Mengapa Rumah Sakit Menolak BPJS ?
  2. Bridging / Integrasi Aplikasi SEP BPJS – SIMRS
  3. SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit)